15 Maret 2013 - 13:42

"Nabi Muhammad Saw bersabda bahwa jika seorang mukmin disakiti itu sama halnya menyakiti Nabi. Barang siapa yang berwilayah kepada Ahlul Bait as harus mengetahui bahwa menyakiti seorang mukmin sama halnya menyatakan perang dengan Allah SWT. Kita tidak semestinya menjadikan hidup kita ini ibarat neraka dan kepada yang lain saling mengusik satu sama lain."

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Ahmad Jannati Khatib Jum'at pekan ini (15/3) di Teheran Ibu kota Republik Islam Iran dalam khutbah awalnya memesankan kepada umat Islam untuk lebih meningkatkan ketakwaan dan keimanan kepada Allah SWT. Beliau berkata, "Saling berpesan dalam ketakwaan dan keimanan adalah anjuran penting dalam Islam. Dalam kitab Wasail al Syiah jilid kedelapan menekankan hal ini dalam 166 bab. Bahwa kehidupan seorang muslim adalah kehidupan yang bersih dan suci. Kehidupan yang bersih maksudnya adalah kaum muslimin jangan merusak kehidupannya sendiri dengan hal-hal yang kotor, sebab kebanyakan kesulitan hidup yang dihadapi umat manusia adalah karena ulah tangan-tangan mereka sendiri."

"Allah SWT menghendaki kehidupan kita bahagia, tentram dan selamat. Nabi Muhammad Saw bersabda, seorang muslim adalah yang masyarakat selamat dan aman dari kejahatan tangan dan lisannya, dan jika tidak demikian, maka dia bukanlan seorang muslim yang sejati. Karena itu, kita harus senantiasa berhati-hati dalam setiap laku perbuatan kita, dan sebisa mungkin untuk tidak mencelakakan orang lain." Lanjutnya.  

Ayatullah Jannati melanjutkan penyampaiannya, "Melakukan ghibah, menghina, mencela, berkata-kata keji, melecehkan dan memandang remeh dan mempermalukan orang lain adalah diantara tindakan-tindakan tidak terpuji yang diharamkan Islam. Nabi Muhammad Saw bersabda bahwa jika seorang mukmin disakiti itu sama halnya menyakiti Nabi. Barang siapa yang berwilayah kepada Ahlul Bait as harus mengetahui bahwa menyakiti seorang mukmin sama halnya menyatakan perang dengan Allah SWT. Kita tidak semestinya menjadikan hidup kita ini ibarat neraka dan kepada yang lain saling mengusik satu sama lain."

Berkaitan dengan menjelang masuknya tahun baru Iran, khatib Jum'at Teheran tersebut berkata, "Kita bisa mengikat perjanjian kepada Allah SWT bahwa di tahun baru yang akan datang ini akan kita isi dengan tanpa mengganggu satu sama lain, jika teguh dan setia dengan perjanjian ini, Insya Allah rahmat Allah SWT akan menyertai kita tahun ini."

Pada bagian lain ceramahnya, Khatib Shalat Jumat Tehran, Ayatullah Ahmad Jannati menyinggung musuh Iran pasti akan melakukan berbagai upaya untuk menciptakan perpecahan dan mencegah partisipasi luas rakyat Iran pada pemilu presiden mendatang dan beliau menilai segala konspirasi musuh tersebut pasti gagal.

Ayatullah Jannati menandaskan, "Kekuatan dunia dengan bantuan anasir dalam negeri berusaha menciptakan kerusuhan dan perpecahan di antara rakyat Iran serta menebar propaganda negatif guna merusak iklim persaingan di pilpres Iran pada bulan Juni 2013 mendatang. Namun bangsa Iran seperti sebelumnya akan mematahkan konspirasi musuh dengan berpartisipasi luas di pemilu."

Khatib Shalat Jumat Tehran tersebut seraya menepis propaganda busuk musuh Republik Islam terkait tidak sehatnya pemilu Iran menambahkan, "Jika pemilu di Iran tidak bebas, maka kini Tehran kini tidak akan menjadi teladan terbaik di bidang demokrasi agama bagi negara lain."

Ayatullah Jannati seraya menjelaskan bahwa uji kelayakan untuk menjadi kandidat presiden di Iran dilakukan berdasarkan undang-undang, menandaskan, "Rakyat Iran menuntut keamanan dan ketenangan saat digelarnya pemilu mendatang serta menghendaki iklim yang tenang tanpa friksi saat memilih kandidat mereka."

Khatib Shalat Jumat Teheran seraya mengisyaratkan pengakuan petinggi Amerika terkait kemajuan Iran di bidang sains dan teknologi khususnya selama masa sanksi dan represi mengatakan, "Swasembada di bidang industri militer, minyak dan peningkatan ekspor minyak Iran merupakan kekalahan telak bagi mereka yang menyangka mampu menaklukkan bangsa Iran dengan meningkatkan sanksi."

Ayatullah Jannati kepada para pemimpin Barat menasehatkan, "Sebaiknya kalian merevisi kebijakan yang kalian tempuh ketimbang menerapkan pembatasan dan represi lebih besar kepada Republik Islam Iran yang tidak menghasilkan apa pun. Dan kalian pun lebih baik mengakui hak legal nuklir Iran."

Ayatullah Jannati di kesempatan tersebut juga mengutuk pembantaian pengikut Syiah di Pakistan dan menilai peran AS di pembantaian ini sangat transparan. "Tujuan negara arogan dunia di aksi pembantaian pengikut Syiah adalah mengobarkan perpecahan antara Syiah dan Sunni di Pakistan dengan harapan mampu mensukseskan ambisi mereka menguasai Islamabad dan kawasan dengan mengobarkan kerusuhan," tegas Ayatullah Jannati.